Qwriting #1

Malin kundang remake

"Mr. Malin Kundang"

Suhu udara semakin turun terus kali ini lebih enak disebut merosot atau anjlok lebih enak lagi untuk disebut. Angin kencang di luar terkadang juga mengusik seperti meminta diperhatikan saja, menerbangkan apa pun yang bisa diterbangkannya, mengganggu fokus orang orang yang sangat khawatir ditinggal pergi pesawat mereka lagi. Tapi suhu dingin di luar tidak terasa sama sekali hingga ke dalam tempat keberangkatan bandar udara itu, mungkin pemanas ruangan mereka bekerja sangat baik dan sangat keras.

Orang orang lalu lalang sibuk dengan urusan masing masing, kebanyakan memang terlihat beberapa kali ke toilet mungkin cuaca seperti ini kurang nyaman bagi beberapa pemilik kantung urin. Sepasang kekasih sejak dari tadi terlihat menyibukkan diri saja berfoto di tempat duduk mereka, mungkin beberapa menit lagi foto itu sudah ada di sosial media mereka. Persis beberapa langkah dari mereka seorang eksekutif muda, begitu sepertinya, memakai setelan warna gelap rapih ditambah jas dan dasi yang sangat eksekutif, sibuk dengan gawainya sepertinya dia sedang mengetik sesuatu mungkin laporan keuangan karena dari raut wajahnya tak menunjukkan dia sedang membalas pesan yang menyenangkan dari seorang kekasih.

Seorang pria berperawakan tegap tinggi berwajah asia tidak berkulit putih lebih tepatnya komunitas dari kawasan asia tenggara, sibuk menekan tombol tombol di ponselnya.

"Halo dik, ini uda, pakai nomor telepon lokal, nomor uda yang biasa itu hilang jaringanya.."
"Halo udaa" suara di belakang telepon
"Ndak apo uda, uda baik baik saja kan ? Cuaca disana ekstrem adik baru saja lihat kabar berita di televisi.."
"Alhamdulillah dik, bagaimana kabar keluarga di Australi ?"
"Alhamdulillah kami semua baik disini uda sayang, tak usah khawatirkan kami insyaallah Sofia urus anak anak disini mereka bahagia dapat nilai bagus hasil ujian kemarin"
"Iya baik kalo begitu, tapi tak usah sampaikan kalo uda menelpon sekarang insyaallah secepatnya uda setelah urusan semua selesai disini uda langsung pulang ke Australia"
"Iya uda semoga semua masalahnya segera selesai" Sofia senang sudah tak sabar keluarga mereka akan berkumpul lagi
"Baiklah dik uda harus segera masuk, pesawat sudah akan berangkat pesawat sudah di izinkan terbang cuacanya sudah memungkinkan kata mereka"
"Baik uda sayang, hati hati selalu berdoa semoga perjalanannya lancar.."
"Mr. Malin ?" Malin lantas hanya memberi senyum meyakinkan pada petugas bandara

Hitungan detik kemudian terdengar suara gemuruh tak begtu keras. Belum selesai Malin menghela nafas suara gemuruh berikutnya terdengar, sekarang jauh lebih besar, bahkan kini kaca gedung seakan menggelegar gemetar, sepersekian detik kemudian gedung bandara seperti diguncang atau mungkin seperti terkena hembusan angin yang sangat keras.

Semua berubah dari kondisi yang semestinya membaik dan beberapa jalur penerbangan sudah di izinkan berangkat kini bubarr semua orang serentak seperti sudah terlatih dipandu membungkukkan badan menutup kepala dengan kedua tangan. Teriakan demi teriakan kemudian terdengar dimana mana. Seketika pula listrik padam hanya beberapa detik namun kemudian menyala kembali dengan kondisi yang meragukan atau lebih tepatnya menakutkan.

Orang orang berlarian tak menentu, para petugas sebagian membantu melakukan evakuasi sepertinya mereka sudah terlatih menghadapi situasi macam begini, sebagian lagi lari entah kemana para petugas bandara itu mungkin kondisi begini kurang nyaman bagi kantung urin mereka. Sepasang kekasih yang tadinya sibuk mengambil foto tak nampak jejaknya. Si eksekutif muda berlari mencari petugas, dia berteriak tidak jelas,
yang jelas dia ingin di selamatkan !

Seorang petugas berteriak meminta perhatian, kemudian mengarahkan orang orang panik ini menuju jalur evakuasi lewat tangga darurat !
Gemuruh keras terdengar lagi, sekarang dua kali lebih keras membuat kontruksi bandara ini bergetar, seketika orang orang panik yang sudah berjalan  di tangga darurat tadi terhenti sambil berteriak. Petugas bandara itu kembali meyakinkan supaya tetap tenang dan terus melanjutkan perjalanan.

Malin yang sedari tadi terus berlari mencari jalan keluar menemukan rombongan yang menyusuri jalan darurat kemudian mengikuti mereka. Malin selalu teringat. Saat saat seperti ini malin selalu teringat akan kedurhakaannya pada ibunya. Malin kundang tak pernah melupakan kejadian itu. Akan tetapi dia saat ini senantiasa memohon ampun kepada tuhan dan meninta Tuhan mengampuni segala dosa ibunya dan begitupula dosa yang dia perbuat termasuk dosa kepada ibunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar menulis #2